
Kronologi
Allah
SWT menjelaskan bahwa mereka merupakan pemuda yang lari untuk menyelamatkan
keimanan mereka.
Karena
pada saat itu kaum mereka sedang dilanda pengujian iman dengan kesyirikan dan
pengingkaran terhadap hari kebangkitan.
Lalu
supaya syirik itu tidak menimpa mereka maka mereka melakukan pengasingan diri
kedalam suatu gua.
Ketika
memasuki gua tersebut, mereka berdoa kepada Allâh memohon rahmat dan
belas-kasih-Nya.
Dikatakan
oleh Syaikh Asy-Syinqithi, bahwa permohonan mereka tersebut merupakan doa yang
agung dan mencakup seluruh kebaikan.
Dari
doa para pemuda itu, terdapat satu sisi yang ditekankan oleh Syaikh as-Sa’di,
yakni:
Mereka telah menggabungkan atau memadukan antara (usaha yaitu) lari dari fitnah dengan menuju ke suatu tempat yang bisa menjadi persembunyian. Mereka tunduk dan melakukan permintaan kepada Allâh agar dimudahkan urusannya, dan tidak menyandarkan urusan-urusan kepada diri mereka sendiri dan kepada sesama makhluk lainnya
Allah
SWT berfirman.
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا
بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Artinya: “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman
kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk“.
[Al-Kahfi/18:13]
Para
pemuda tersebut hanya beriman kepada Allâh SWR semata, tidak seperti kaum
mereka.
Maka,
Allâh SWT mensyukuri keimanan mereka, dan kemudian menambahkan hidayah atas
diri mereka.
Sebagaimana
firman Allah SWT yang artinya:
“Dan Allâh akan menambahi petunjuk kepada mereka yang telah
mendapatkan petunjuk.[ Maryam/19:76].[5]
Allah
SWT berfirman.
وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ
إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ
مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
Artinya: Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka
berdiri, lalu mereka berkata, “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami
sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian
telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. [Al-Kahfi/18:14]
Kemantapan
dan keteguhan hati bagi mereka sangat patut diacungi jempol. Karena, seluruh
penduduk memusuhi mereka, sedangkan usia mereka pada waktu itu masih muda, yang
bisa saja dipengaruhi oleh orang tua.
Akan
tetapi Allâh Azza wa Jalla telah meneguhkan hati mereka. Demikian menurut
tinjauan Syaikh al-‘Utsaimin.
Para
pemuda tersebut telah mengaitkan antara ikrar terhadap contoh tauhid rubûbiyyah
dengan tauhîd ulûhiyyah dan konsisten dengannya, disertai dengan penjelasan
bahwa Allâh-lah Dzat yang Haq, dan selain-Nya merupakan kebatilan.
Ini
menunjukkan, mereka benar-benar mengenal Rabb dan adanya tambahan hidayah pada
mereka.
هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا
مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
Artinya: “Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai
ilah-ilah (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang
terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zhalim daripada
orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allâh“. [Al-Kahfi/18:15]
Jadi,
ada dua tuntutan pada kaum mereka. Yaitu:
Meminta pembuktian bahwa sesembahan mereka adalah ilah
(sesembahan yang haq)
Meminta pembuktikan, bahwa ibadah yang mereka lakukan adalah
benar. Dan dua hal ini, mustahil dapat dibuktikan oleh orang-orang tersebut.
Karena mereka tidak mampu membantah argumentasi para pemuda tersebut, maka kekerasan
fisik akan menjadi langkah mereka selanjutnya.
Jika
dalam kondisi darurat mengancam keagamaan seseorang, maka sangat dianjurkan
untuk melakukan pengasingan diri.
وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا
يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ
مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا
Artinya: “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang
mereka sembah selain Allâh, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu,
niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan
sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu“. [Al-Kahfi/18:16]
Allâh
SWT telah mencurahkan sebagian rahmat-Nya dan memudahkan urusan mereka dengan
petunjuk yang lurus dalam urusan mereka.
Karenanya,
Allâh SWT menjaga agama dan fisik mereka, serta menjadikannya termasuk
tanda-tanda kekuasaan-Nya di hadapan makhluk.
Allah
SWT berfirman.
وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا
طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ
تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ
اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ
تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
Artinya: “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong
dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke
sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu
adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allâh. Barangsiapa yang diberi
petunjuk oleh Allâh, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang
disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang dapat
memberi petunjuk kepadanya“. [Al-Al-Kahfi/18:17]
Berapa lama mereka tinggal digua tersebut?
Allah
SWT membangunkan mereka saat tertidur lelap. Lalu mereka saling bertanya satu
sama lain mengenai berapa lama mereka tertidur digua tersebut.
Mereka
mengira hanya menghabiskan waktu untuk tidur selama sehari atau setengah hari
saja.
Namun,
ternyata mereka tertidur selama beratus ratus tahun tanpa ada perubahan fisik
satu pun.
Allah
SWT berfirman.
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ
ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا
Artinya: “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun
dan ditambah sembilan tahun (lagi)“. [Al-Kahfi/18:25]
Setelah
dibangkitkan, mereka membeli makanan yang mereka butuhkan saat itu.
Allah
SWT berfirman.
وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا
عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا
رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا
عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا ۖ رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا
عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا
Artinya: Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan
mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allâh itu benar, dan bahwa
kedatangan hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu
berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikanlah sebuah
bangunan di atas (gua) mereka, Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka”.
Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan
mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya“. [Al-Kahfi/18:21].
Hikmah dari Kisah Ashabul Kahfi
Hikmah
yang dapat kita ambil dari kisah ini, yaitu:
Mementingkan agama dari apapun, maka niscaya Allah SWT akan
menyelamatkannya
Tawakal kepada Allah SWT apabila dilanda masalah, yakin bahwa
Allah SWT akan menolongnya.